Selasa, 23 Juli 2013

Home » , , » Karena Beban Ekonomi, Keluarga ini Nekat 'Berikan' Anaknya pada Orang Lain

Karena Beban Ekonomi, Keluarga ini Nekat 'Berikan' Anaknya pada Orang Lain

News-Madura, Pamekasan. Orang tua mana yang tega terpisah jauh dengan anak-anaknya? Namun, apa pun pasti dilakukan orang tua demi kelanjutan hidup buah hatinya. Termasuk memberikan anaknya kepada orang lain. Hal itulah yang terjadi pada Suryati, 44, salah satu keluarga miskin (gakin) di Kota Pamekasan.
DI balik keasrian wajah Kota Pamekasan, ternyata menyimpan kisah pilu keluarga kurang mampu. Terletak di Jalan Cokroatmojo Kelurahan Parteker, sebuah keluarga terpaksa harus memberikan dua anaknya kepada orang lain. Alasannya, impitan ekonomi membuat keluarga tersebut tak mampu membiayai hidup anak-anaknya. Adalah pasangan suami istri (pasutri) Sumarto, 64, dan Suryati.
Pasutri ini memiliki lima anak, yakni Ribut Kurniawan 24, Rido Deniawan 22, Rita Farinda 18, Rini Falinda 14, dan terakhir Riskina Fatima, 7. Dari lima anaknya itu, Rita Farinda dan Rini Falinda diserahkan kepada orang di Jakarta yang tak lain masih ada hubungan kerabat. ”Rasanya berat ketika buah hati harus diserahkan kepada orang lain. Apalagi jaraknya sangat jauh. Kadang hati ini menangis saat ingat mereka,” tutur Suryati yang mengaku sudah tidak mampu menghidupi anak-anaknya.
Saat ditemui, Suryati sedang berada di rumahnya di Jalan Cokroatmojo Pamekasan. Untuk menemukan rumah Suryati tidaklah sulit. Sebab, dibanding dengan rumah-rumah di sekitarnya, rumah gakin ini sangat mencolok. Selain ukurannya yang lebih kecil, dinding rumah yang terbuat dari gedek membuat rumah Suryati mudah dikenali. Rumah yang tidak layak huni itu menjadi saksi sejarah ketika keduanya harus memperjuangkan hidup di tengah impitan ekonomi.
Suryati menuturkan, suaminya tidak bisa berbuat banyak ketika dinyatakan menderita penyakit komplikasi sejak 8 tahun lalu. Mulai dari kencing manis, paru-paru, dan darah tinggi. Kondisi tersebut membuat suami Suryati hanya bisa tergolek lemah di atas tempat tidur. Keadaan itulah yang memaksa Suryati harus menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan segala keterbatasan, dia pun mencara nafkah sebagai pekerja serabutan.”Sejak bapak sakit-sakitan, saya yang mencari uang sendiri Mas,” ujarnya. Saking beratnya beban, Suryati terpaksa memberikan dua anaknya kepada kerabatnya. Bahkan, deritanya tak cukup di situ. Riskina Fatimah, anak bungsunya, harus menderita cacat sejak lahir. Menurut dia, cacat yang dialami anaknya disebabkan kecelakaan saat dirinya mengandung.
Ketika mengandung anak yang kelima, saya kecelakaan hingga pendarahan,” ungkap Suryati kepada Jawa Pos Radar Madura. Menginjak usia kandungan 7 bulan, Suryati harus melahirkan. Dengan usia kandungan itu, bayi yang dilahirkan hanya memiliki berat badan 1 kilogram. ”Saya terkejut melihat berat anak saya yang hanya 1 kilogram. Saat itu saya semakin bingung akan biaya persalinan dan biaya hidup anak serta suami,” kenang perempuan paro baya itu. Dengan mata berkaca-kaca, Suryati kembali melanjutkan kisah anak bungsunya.
Menurutnya, hingga beranjak remaja, kakinya masih saja lemah dan tak bisa berjalan. ”Ingin bagaimana lagi Mas, ini sudah takdir saya mempunyai anak cacat fi sik,” ucapnya. Kepada Jawa Pos Radar Madura Suryati mengaku harus berjuang lebih keras lagi. Sebab, Riskina Fatimah kini bersekolah di salah satu SDN di Parteker. ”Percuma banyak mengeluh Mas, saat ini berbuat semampunya itu lebih baik, walaupun terkadang harus ngutang ketika kondisi sangat mendesak,” pungkasnya
Sumber: Radar Madura
Share this article :

Poskan Komentar